komunitas kembangmerak

Bermain-main dengan Teks “Representasi Kaum Pinggiran dan Kapitalisme” Karya Melani Budianta

Ditulis dalam postcolonialism league (season two) oleh komunitaskembangmerak pada 2010/01/03

-Nurhikmah-

Dari berbagai literatur yang muncul, kita-setidaknya- bisa menemukan jejak-jejak historis Indonesia yang muncul dari cangkang modernisme. Kita bisa melihatnya dalam dokumentasi pencitraan Indonesia dalam foto, film, sastra dan media ( misal lihat tulisan Kasijanto : 2008). Konsep modernisme ini diwakili oleh “Barat”, meskipun hal ini diakui “setengah-setengah” oleh para pendiri bangsa ini. Hal ini semakin kompleks tatkala masyarakat kita khususnya kalangan “bawah” tak mampu menolak sekaligus “kalang kabut” dengan modernisasi yang datang.

(lagi…)

G-string, Hipersemiotika, dan Indigenisasi

Ditulis dalam postcolonialism league (season two) oleh komunitaskembangmerak pada 2009/12/21

Achmad Choirudin

Barat. Dan kita pun terlarut dalam pusaran kegamangan. Maka ketika seorang Sutan Takdir Alisjahbana menegaskan bahwa bangsa ini perlu untuk “menoleh ke Barat”, kita pun terlibat dalam sebuah diskursus dan polemik yang seakan tidak berujung. Tidak berujung karena rupanya kita pun belum lagi sepakat mengenai pangkalnya. Ketidaksepakatan ini berangkat dari kenyataan bahwa kata Barat sendiri tidaklah merujuk pada sebuah monolit—entitas tunggal yang seragam. Barat mewakili himpunan yang beragam dan kompleks. (lagi…)

Sosialisme Jawa

Ditulis dalam postcolonialism league (season two) oleh komunitaskembangmerak pada 2009/11/03

Ryan Sugiarto

Persinggahan saya di B21, minggu (31/5) lalu tak bersia-sia. Bermaksud menemui Lebak membara, ternyata masih menyepi di kaki merapi. Sebuah ihtiar dari berharap menuntasparipurnakan langkah awal proyek jawa ini.

Tetapi menjelang gelap, datang pesaing dekatnya. Dr.Purwadi. Dosen fakultas Sastra UNY, Rektor Isbuja (masih ada ga Pak?)

Maka seperti bisaa, belia langsung ndalang. Dan tak tanggung-tanggung lakon yang diwicarakannya adalah tentang sosialisme jawa. Apa itu? Itu sebenarnya lontaran terakhir darinya ketika penulis akan beranjak dari B21 menuju station Yogyakarta. “Yo disangoni no,” tutur kang fatur. (lagi…)

Luka yang Meradang (Sahutan Ringan Ihwal Pendidikan)

Ditulis dalam postcolonialism league (season two) oleh komunitaskembangmerak pada 2009/08/12

eka s. saputra

Memasuki tengah tahun biasanya pikiran saya cenat-cenut. Karena isi kantong harus segera dikuras lagi untuk membayar biaya kuliah. Memang sih, puji syukur Tuhan, orang tua kerap masih transfer jatah. Tetapi, kadang tetap besar pasak dari pada tiang. (lagi…)

Pendidikan dan Luka Peradaban

Ditulis dalam postcolonialism league (season two) oleh komunitaskembangmerak pada 2009/07/27

Iryan Ali H,

Kini, kondisi pendidikan kita tengah mengalami titik nadirnya dan dihadapkan pada komersialisasi. Komersialisasi hadir ketika daya cipta kebudayaan masyarakat pendukungnya dilemahkan, dan tiba-tiba watak kapitalis hadir menyelinap untuk merangsek kelas-kelas di sekolah. Inilah yang dihadapi Indonesia, dan menyaksikan kesilauan apa yang ‘dibawa’ dan merayakan apa yang ditanggalkan. Dengan begitu, komersialisasi bisa jadi berlaku saat keduanya bergerak di antara kelengahan masyarakat dan kegesitan para pemanggul proyek kapitalisme. (lagi…)

Kolase Imagined Identity di Resto-resto Kuliner

Ditulis dalam postcolonialism league (season two) oleh komunitaskembangmerak pada 2009/06/25

rifqi muhammad;

Sekitar dua bulan lalu, bersama beberapa teman, Saya bertandang ke salah satu warung makan khas Jepang di Jogja. Meski secara georgafis warung yang kira-kira berukuran 5 x 7 meter itu jelas jauh dari Jepang, tapi ia mampu menghadirkan Jepang. Mulai dari makanan, musik, tata ruang, perabot, sampai hiasan-hiasan, semua menguatkan imajinasi Jepang. Sepertinya sekat dan skala ruang memang bukan lagi menjadi halangan untuk saling mengadopsi. (lagi…)

Kondisi Post-anatomi, Melukis Manusia

Ditulis dalam postcolonialism league (season two) oleh komunitaskembangmerak pada 2009/05/29

; catatan lepas untuk memasuki tubuh manusia dalam seni rupa
Oleh: Rifqi Muhammad

Dalam kancah seni rupa, Raden Saleh Syarif Bustaman dikategorikan sebagai pioner perupa modern di Indonesia. Dilahirkan di kalangan kerabat bupati semarang, Saleh termasuk kaum pribumi sebetulnya, namun karena perupa ini banyak bergumul dengan kalangan londo, terlebih seusai belajar di Eropa atas beasiswa Belanda dan menikah dengan orang Belanda, gaya hidupnya lebih mengarah kebarat-baratan. (lagi…)

Memandang Negeri Jajahan di Geladak Kapal

Ditulis dalam postcolonialism league (season two) oleh komunitaskembangmerak pada 2009/05/17

–by; Iryan Ali H, diskusi k2m (17/5/09)

“Hanya matamu yang tajam

menangkap berkas-berkasnya

di pasir, sebelum engkau melangkah[i]

Bisa jadi, bagi bangsa terjajah, sejarah adalah pilu, luka, sekaligus dendam (lagi…)

Rayuan Gombal Rekonsiliasi

Ditulis dalam postcolonialism league (season two) oleh komunitaskembangmerak pada 2009/05/03

eka s. saputra

Bagi kita yang menjadi korban , tidak (boleh) ada kosakata kompromi dalam kamus penyelidikan kebenaran.

Di zaman kekinian saat politik kebebasan begitu dijunjung tinggi, nilai-nilai kemanusiaan mendapat tempat yang sangat terhormat. Salah satunya, nilai tersebut bersemayam di pegunungan hak asasi manusia (ham) yang booming di kepulauan Indonesia sejak runtuhnya pemerintahan Orde Baru tahun 1998. Tuntutan pertama yang biasa disuarakan para pejuang ham yakni, adanya upaya rekonsiliasi kebenaran (atas) konflik masa silam yang berlangsung secara jurdil. Jujur lan adil. (lagi…)

‘Menengok Sejenak’ Negeri Para Penjajah; Poskolonialisme dan/atau Kolonialisme?

Ditulis dalam postcolonialism league (season two) oleh komunitaskembangmerak pada 2009/05/01

Iryan Ali H

Pada akhirnya, pemerintah kolonial Belanda harus mengakui pendapat seorang sarjana dari Mesir yakni Mona Abaza, di mana sekolah di luar negeri hanyalah menjadi senjata ‘makan tuan’ untuk suatu imperium kolonialisme (Mona Abaza, 1999). Itulah bukti suatu ketika di mana manusia tidak diberi ruang kebebasan untuk menyerukan keinginan dalam ruang geraknya sebagai subjek individu dan penghargaan atas individualitas (Ania Loomba, 2006. Francis Fukuyama, 2006). Dan mereka yang punya kesempatan bersekolah di luar negeri telah memanfaatkan kesempatan zaman, lalu berhasil untuk meloloskan kehendak zaman abad XX yakni melesapkan penindasan dalam bentuk kemerdekaan, seperti yang pernah dilihat di negeri induk jajahan. Di sini, saya sekadar hendak mengatakan bahwa (lagi…)