Ryan Sugiarto
Persinggahan saya di B21, minggu (31/5) lalu tak bersia-sia. Bermaksud menemui Lebak membara, ternyata masih menyepi di kaki merapi. Sebuah ihtiar dari berharap menuntasparipurnakan langkah awal proyek jawa ini.
Tetapi menjelang gelap, datang pesaing dekatnya. Dr.Purwadi. Dosen fakultas Sastra UNY, Rektor Isbuja (masih ada ga Pak?)
Maka seperti bisaa, belia langsung ndalang. Dan tak tanggung-tanggung lakon yang diwicarakannya adalah tentang sosialisme jawa. Apa itu? Itu sebenarnya lontaran terakhir darinya ketika penulis akan beranjak dari B21 menuju station Yogyakarta. “Yo disangoni no,” tutur kang fatur. (lagi…)
eka s. saputra
Memasuki tengah tahun biasanya pikiran saya cenat-cenut. Karena isi kantong harus segera dikuras lagi untuk membayar biaya kuliah. Memang sih, puji syukur Tuhan, orang tua kerap masih transfer jatah. Tetapi, kadang tetap besar pasak dari pada tiang. (lagi…)
Iryan Ali H,
Kini, kondisi pendidikan kita tengah mengalami titik nadirnya dan dihadapkan pada komersialisasi. Komersialisasi hadir ketika daya cipta kebudayaan masyarakat pendukungnya dilemahkan, dan tiba-tiba watak kapitalis hadir menyelinap untuk merangsek kelas-kelas di sekolah. Inilah yang dihadapi Indonesia, dan menyaksikan kesilauan apa yang ‘dibawa’ dan merayakan apa yang ditanggalkan. Dengan begitu, komersialisasi bisa jadi berlaku saat keduanya bergerak di antara kelengahan masyarakat dan kegesitan para pemanggul proyek kapitalisme. (lagi…)
rifqi muhammad;
Sekitar dua bulan lalu, bersama beberapa teman, Saya bertandang ke salah satu warung makan khas Jepang di Jogja. Meski secara georgafis warung yang kira-kira berukuran 5 x 7 meter itu jelas jauh dari Jepang, tapi ia mampu menghadirkan Jepang. Mulai dari makanan, musik, tata ruang, perabot, sampai hiasan-hiasan, semua menguatkan imajinasi Jepang. Sepertinya sekat dan skala ruang memang bukan lagi menjadi halangan untuk saling mengadopsi. (lagi…)
; catatan lepas untuk memasuki tubuh manusia dalam seni rupa
Oleh: Rifqi Muhammad
Dalam kancah seni rupa, Raden Saleh Syarif Bustaman dikategorikan sebagai pioner perupa modern di Indonesia. Dilahirkan di kalangan kerabat bupati semarang, Saleh termasuk kaum pribumi sebetulnya, namun karena perupa ini banyak bergumul dengan kalangan londo, terlebih seusai belajar di Eropa atas beasiswa Belanda dan menikah dengan orang Belanda, gaya hidupnya lebih mengarah kebarat-baratan. (lagi…)
–by; Iryan Ali H, diskusi k2m (17/5/09)
“Hanya matamu yang tajam
menangkap berkas-berkasnya
di pasir, sebelum engkau melangkah[i]”
Bisa jadi, bagi bangsa terjajah, sejarah adalah pilu, luka, sekaligus dendam (lagi…)
eka s. saputra
Bagi kita yang menjadi korban , tidak (boleh) ada kosakata kompromi dalam kamus penyelidikan kebenaran.
Di zaman kekinian saat politik kebebasan begitu dijunjung tinggi, nilai-nilai kemanusiaan mendapat tempat yang sangat terhormat. Salah satunya, nilai tersebut bersemayam di pegunungan hak asasi manusia (ham) yang booming di kepulauan Indonesia sejak runtuhnya pemerintahan Orde Baru tahun 1998. Tuntutan pertama yang biasa disuarakan para pejuang ham yakni, adanya upaya rekonsiliasi kebenaran (atas) konflik masa silam yang berlangsung secara jurdil. Jujur lan adil. (lagi…)
Iryan Ali H
Pada akhirnya, pemerintah kolonial Belanda harus mengakui pendapat seorang sarjana dari Mesir yakni Mona Abaza, di mana sekolah di luar negeri hanyalah menjadi senjata ‘makan tuan’ untuk suatu imperium kolonialisme (Mona Abaza, 1999). Itulah bukti suatu ketika di mana manusia tidak diberi ruang kebebasan untuk menyerukan keinginan dalam ruang geraknya sebagai subjek individu dan penghargaan atas individualitas (Ania Loomba, 2006. Francis Fukuyama, 2006). Dan mereka yang punya kesempatan bersekolah di luar negeri telah memanfaatkan kesempatan zaman, lalu berhasil untuk meloloskan kehendak zaman abad XX yakni melesapkan penindasan dalam bentuk kemerdekaan, seperti yang pernah dilihat di negeri induk jajahan. Di sini, saya sekadar hendak mengatakan bahwa (lagi…)
Mau ngomongin apa nih sekarang? Ujar seorang kawan rada menggebu. Hubungan kata-katanya dengan pertemuan minggu sore yang masih rutin dilakukan komunitas kembangmerak. Kebetulan ada tulisan seorang kawan yang tengah menjadi imigran ke Jakarta, jadilah tulisan itu menjadi ‘objek’ obrolan kami yang (bukan sekadar) ‘subjek’. Berikut petikannya:
Share Tue 9:39pm
Ryan Sugiarto
Saya teringat apa yang disampaikan oleh kawan Ignas Cleruk, mahasiwa filsafat UGM, waktu itu, dalam sebuah diskusi Komunitas Kembang Merak. Tema waktu itu adalah Tembang Jawa: Soal Citra Rasa Bahasa. Ignas melontarkan,”kalau begitu apakah ini postkolonial? Apakah tidak postkerajaan? Post istana?”